- TETAPLAH TERHUBUNG DENGAN KAMI UNTUK TIPS & UPDATE ARTIKEL TERBARU facebook mahardhika.net FACEBOOK twitter mahardhika.net TWITTER update artikel mahardhika.net FEED

Menapaki Misteri Gunung Argopuro
Oleh : Fifin Maidarina | Sabtu, 27 November 2010 - 12:27:15 WIB | Dibaca: 2638 kali | Kategori: Traveling

menapaki-misteri-gunung-argopuro


Konon terdapat sebuah taman yang sangat gaib yakni taman Rengganis, namun tidak semua pendaki dapat melihat taman ini. Beberapa pendaki yang pernah melihat taman ini merasa memasuki sebuah taman yang sangat indah penuh dengan tanaman bunga dan buah. Pendaki yang mengambil atau memetik tanaman tidak akan dapat keluar dari taman ini, hanya berputar-putar di tempat tersebut.

Argopuro dengan berbagai keindahan alam dan misterinya menarik minat pecinta alam terutama para pendaki untuk menelusuri dan ikut merasakannya. Kawasan Argopuro berada pada dua kabupaten di Jawa Timur yaitu berada pada kabupaten Probolinggo (Bremi) dan Bondowoso (Baderan). Merupakan gunung yang sudah tidak aktif lagi, dengan ketinggian mencapai 3088 mdpl, berada di antara Gn. Raung dan Gn.Semeru. Tidak terlalu tinggi namun medannya cukup berat, karena cenderung melingkar dengan naik turun beberapa bukit. Merupakan kawasan konservasi sehingga bukan merupakan tempat wisata dan masih sangat terjaga sisi naturalnya. Masih bisa ditemui banyak hewan liar, seperti lutung, merak, ayam alas (=hutan), babi hutan bahkan macan kumbang.

Jika hanya ingin mendaki hingga puncak bisa dengan jalur Bremi-puncak-Bremi atau Baderan-puncak-Baderan. Namun jika benar-benar ingin menikmati segala bentuk keindahan alamnya, disarankan melalui jalur Baderan-puncak-Bremi. Rute Baderan–puncak lebih melingkar namun medan cenderung bersahabat daripada Bremi–puncak yang lebih dekat namun sangat terjal, sehingga tetap saja membutuhkan waktu yang sama lamanya.

Pendakian Argopuro Jalur Baderan – puncak Rengganis – Bremi

(Jalur ini bisa memberikan gambaran lengkap, meski nantinya hanya akan melalui Baderan-puncak-Baderan ataupun Bremi- puncak-Bremi)

Karena merupakan kawasan konservasi, pendakian Argopuro tidak seramai gunung-gunung lainnya di Jawa Timur. Pendaki wajib melapor di pos RESORT KSDA PEG. HYANG TIMUR di BADERAN. Pos tersebut berada pada jalur masuk ke pendakian. Jangan lupa membawa surat ijin masuk kawasan konservasi dari Departemen Kehutanan setempat. Disarankan tiba di sini pagi hari, sehingga sorenya sudah bisa istirahat di pos berikutnya.

Dari pos pelaporan, akan ditemui jalan beraspal sekitar 200 m dan kemudian jalan berbatu. Dalam rute jalan berbatu tersebut akan ditemukan pos 1, pos 2 dan pos 3. Jalurnya masih sangat mudah dan jelas rutenya. Antara pos 1 dan pos 2 terdapat sumber air desa. Bisa dimanfaatkan untuk mandi, masak dan mengisi perbekalan air.

Rute berikutnya berupa perkebunan dan hutan. Masih banyak lutung, burung-burung, bahkan sesekali mungkin akan bertemu dengan babi hutan. Akan ditemukan mata air 1, dengan petunjuk yang cukup jelas di sisi kiri jalan, namun letak mata airnya di bawah, sehingga harus turun.

Tempat ideal untuk berkemah adalah di Sikasur, namun jika memang kondisi tidak memungkinkan, lebih baik beristirahat dulu di kawasan hutan ini, di dekat mata air tersebut, karena banyak tempat yang cukup luas yang bisa digunakan untuk memasang tenda. Karena jika tidak terbiasa jalan pada malam hari, lebih baik berhenti dan beristirahat sebelum gelap.

Setelah kawasan hutan, akan melewati beberapa padang rumput dengan kondisi naik dan turun bukit. Cukup panjang rutenya namun pemandangannya sangat indah di alam terbuka. Serasa menikmati dunia yang bebas. Dan keindahan tersebut akan disempurnakan saat ditemukan pos Sikasur. Dikelilingi padang rumput dan pohon-pohon dengan berbagai warna yang sangat mengagumkan. Ditambah dengan mata air deras pada aliran sungai yang indah dengan selada air yang tumbuh disekililingnya, menjadikannya sangat memukau.

Dibalik keindahannya ini, salah satu misteri Argopuro tercatat di sini. Pada dataran padang rumput yang indah di depan mata, merupakan bekas landasan terbang Belanda. Para pekerjanya adalah orang Indonesia bahkan penduduk setempat. Dan saat pengerjaannya telah selesai, para pekerja tersebut ditembaki beruntun dan dikubur pada parit-parit yang mereka bangun sendiri. Di sekitar itu, akan tampak sebuah pohon besar berada di tengah-tengah padang rumput. Di bawahnya merupakan bungker Belanda yang berisi perlengkapan rumah tangga yang sangat unik dan indah, namun kini sudah dijarah oleh penduduk setempat, sehingga sudah hilang semua. Saat malam, sesekali mungkin akan terdengar jeritan kesakitan roh para pekerja. Namun tidak perlu khawatir jika memilih untuk bermalam di sana. Asal tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan alam, pasti semuanya akan baik-baik saja. Konon juga terdapat kebun tulip yang ditanam oleh tentara Belanda dan roh tentara tersebut masih menjaganya, sehingga jika ada pendakiyang menemukan dan memetik bunga tersebut, akan dikejar-kejar oleh hantu tentara Belanda tersebut. Sehingga pesan yang paling rasional adalah jangan mengambil apapun selain gambar dan jangan meninggalkan apapun selain jejak

Dari Sikasur, menuju ke pos berikutnya Cisentor, yang merupakan pertigaan pertemuan jalur Baderan, jalur Bremi dan puncak Rengganis. Jalur yang dilalui masih berupa padang rumput gimbal, yaitu padang rumput lebat dan keriting. Karena kering, maka rawan terjadi kebakaran. Lebih baik berhati-hati jika menyalakan api atau bahkan api unggun, tidak disarankan. Karena berupa padang rumput, maka kondisinya sangat panas jika dilalui siang hari, namun akan menjadi tidak terasa jika menikmati keindahannya, karena setiap rute pada jalur Argopuro ini, menawarkan pemandangan yang berbeda-beda dengan keunikan keindahan yang senantiasa mempesona. Fotografer bisa menangkap ribuan angle yang berbeda namun menarik sempurna dari semua sisinya.

Setelah padang rumput gimbal, rute berikutnya adalah melewati dua bukit dengan sisa-sisa pohon bekas kebakaran. Dan di tempat ini banyak ditemukan edelweiss khas Argopuro.  Buat para pendaki yang sudah menjelajah beberapa gunung, senantiasa berkata bahwa edelweiss yang tumbuh didaerah yang berbeda/gunung yang berbeda akan mempunyai ciri yang berbeda pula. Masing-masing punya keunikan sendiri. Dan jika ingin mengkoleksinya, tidak masalah jika ‘meminta’ sedikit disetiap gunung yang didaki.

Setibanya dipuncak bukit, akan menyusuri lereng gunung yang berada di sisi jurang yang sangat dalam. Jalur ini sangat berbahaya karena di salah satu sisi, mudah longsor dan pohon-pohon mudah tumbang, sementara di sisi lainnya adalah jurang yang sangat dalam.  Setelah sampai diujung bukit, kemudian menuruni bukit tersebut dengan rute yang sangat terjaldan menyeberangi sungai  di bawahnya yang tak akan kering meski musim kemarau.

Dan tak lama, sampailah di pos Cisentor. Di depan pos tersebut, merupakan jalur menuju puncak Rengganis (sebelah kanan pos). Jalur yang dilewati adalah padang rumput dan padang edelweiss. Akan ditemui sungai kering dan setelah itu akan tiba di Rawa Embik, sebuah lapangan luas dan terbuka.

Setelah itu akan menapaki lereng terjal dan sisa kebakaran. Tekstur tanahnya gemur berdebu sehingga rawan longsor. Kemudian sedikit turun dan melintasi sebuah sungai yang kering dan berbatu. Kembali mendaki bukit yang terjal, kemudian padang rumput dan padang edelweiss yang sangat indah. Dan didepannya adalah puncak Rengganis yang berwarna keputihan, terdiri dari batu kapur dan belerang.  Puncak ini merupakan bekas kawah yang sudah mati. Puncaknya berbentuk punden berundak mirip altar pemujaan dan disekitarnya terdapat beberapa sisa-sisa bangunan kuno candi tertinggi di Jawa yang diyakini sebagai tempat Dewi Rengganis.

Untuk melanjutkan jalur berikutnya menuju Bremi, akan dilalui rute yang sama sampai tiba di pos Cisentor. Jalur menuju Bremi terdapat di belakang pos (sebelah kiri pos).

Pos berikutnya yang dituju adalah Taman Hidup. Sebuah danau yang wajahnya juga tampak mengandung misteri. Begitu tenang seolah tak ada kehidupan.

Jalur yang akan dilalui cenderung naik dan turun dengan medan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya. Banyak pohon besar tumpang yang melintas di jalan yang digunakan sebagai penghubung dengan kondisi tebing dan jurang di kanan kirinya. Ketahanan fisik senantiasa harus tetap terjaga meski rutenya adalah turun. Banyak juga sisa-sisa kebakaran dan pohon kering di sana. Setelah itu memasuki Hutan Lumut, yaitu hutan yang gelap dan lembab, karena begitu dekatnya jarak antara pohon sehingga sinar matahari sulit menembus masuk. Pada jalur ini sudah tidak terlalu berbahaya, jalur cenderung turun, dengan pijakan sedikit terjal. Karena Argopuro merupakan daerah konservasi, tidak ada satupun panah penunjuk jalan. Mendekati Taman Hidup, jalur hutannya sangat bercabang, dan hanya bisa mengandalkan sisa-sisa jejak sebelumnya sebagai penentu arah. Mungkin akan sangat mudah tersesat, sehingga insting dan daya ingat serta konsentrasi tetap dibutuhkan di sini.

Sesampai di Taman Hidup, bisa digunakan untuk istirahat dan mengisi persediaan air. Kemungkinan besar bisa bertemu dengan pendaki lain di sini. Karena tempat yang ideal untuk beristirahat, baik yang datang dari jalur Baderan atau jalur Bremi.

Keluar dari Taman Hidup menuju pos Bremi akan melewati hutan kembali dengan jalur yang masih lumayan membingungkan, karena masih banyak cabang jalan. Pada musim hujan, akan banyak ditemukan lintah pada kawasan hutan tropis ini. Setelah lolos pada jalur yang benar, maka tinggal menyusuri saja sampai menemukan perkebunan dan berakhir di deretan rumah penduduk dan pos Bremi.

 

Baderan --> perkebunan jagung
1,5 km 30 menit
perkebunan jagung --> hutan
2 km 1,5 jam
hutan --> mata air
2,5 km 3 jam
mata air --> padang rumput
3 km 3 jam
padang rumput --> Sikasur
7 km 2,5 jam
Sikasur --> Cisentor 3 km 3 jam
Cisentor -> Rawa Embik 2,5 jam
Rawa Embik --> puncak Rengganis 1,5 jam
kembali ke Cisentor
 
Cisentor --> Taman Hidup
7 jam
Taman Hidup --> Bremi
3 jam

 

based on our journey on 9-11 sept 2010


Silahkan berbagi Bagikan

Artikel dalam kategori Traveling lainnya

Komentar Anda

Berkah Tuhan berlimpah. Kasihnya terhadap manusia sungguhlah nyata.
Selalu ingin berpetualang dan berpetualang. Argopuro.. aku ingin kembali.
oleh Dhika | 27 November 2010 - 16:50:34 WIB

Maaf, kalo dari Surabaya ke Baderan (Bondowoso) bisa ditempuh dengan apa? Terima kasih.
oleh Putri | 23 Mei 2012 - 19:21:12 WIB

Hanya ada bis AKAS yang langsung ke Terminal Bondowoso, tapi yang banyak bis ke Jember Kemudian ganti bis ke Bondowoso. Dari terminal bondowoso siapkan uang banyak, karena saat tidak banyak penumpang ongkos bisa sampai seratus ribuan dalam bentuk angkot, ojek atau pick-up untuk menuju ke Baderan.
oleh Dhika | 23 Mei 2012 - 22:21:12 WIB

"Baca Syarat Penggunaan. Komentar akan diverifikasi sebelum ditampilkan. Admin berhak menghapus komentar yang tidak sesuai aturan."


Kirim Komentar : (Yang bertanda * harus diisi)
Nama * :
Email * :   - Alamat email tidak untuk dipublikasikan
Website :   - Tanpa http:// (contoh: www.mahardhika.net)
Komentar *
 
 * (Masukkan 6 kode diatas)
 Dengan menekan tombol Kirim, Anda telah setuju Syarat Penggunaan 

BerandaProfilSyarat PenggunaanKebijakan PrivasiHubungi KamiVersi Mobile
Hak Cipta © 2010-2014 Mahardhika.net - Baik dilihat dengan Firefox min. versi 3 pada resolusi 1280x1024 pixels
Powered by ANUGERAHMAHARDHIKA.COM
57